Laman

Minggu, 23 Januari 2011

Radiasi CT Scan



Radiasi pada CT Scan


Penghitungan dosis pada CT Scan menggunakan dosis efektif yang diartikan sebagai jumlah bobot dosis organ akibat pemeriksaan dengan faktor bobot masing-masing jaringan. Meskipun tampak mudah untuk menghitung dosis efektif, sebenarnya sulit untuk secara akurat menghitung dosis tersebut untuk sebuah organ secara individual dari sebuah CT scan. Bahkan hal ini lebih sulit ketika menghitung dosis efektif untuk tiap pasien dengan karakteristik yang berlainan pada tinggi, berat, usia, dan jenis kelamin. Tingkat acuan dosis CT Scan khususnya pada orang dewasa yang dikeluarkan oleh Safety Standars, Safety Series No.115, International Basic Safety Standars terlihat pada tabel berikut :
Tabel 2.1 Tingkat Acuan Dosis CT Scan khusus orang dewasa (Batan,2007)

No Pemeriksaan Dosis rata-rata (mGy)
1 Abdomen 25
2 Head 50
3 Lumbar spine 35

Menurut Duerk (2002), banyaknya radiasi yang diterima pasien selama pemeriksaan CT Scan adalah merupakan fungsi dari beberapa parameter. Parameter tersebut meliputi energi berkas (kVp), arus tabung (mA), waktu rotasi (s), slice thickness, range, FOV dan picth (pada scanning spiral).


Cara Pengukuran Radiasi Pasien Pada CT Scan (Seeram, 2001, Bushberg,2003, Goldman,2007)

Sejarah tentang metode pengukuran dosis pada CT Scan mempunyai banyak skema pengukuran dosis yang didefinisikan sebagai D(z). Beberapa skema di antaranya dengan thermoluminescent dosimetry (TLD) yaitu meletakkan dua kristal pada tepi-tepi lebar berkas sinar-X, dilakukan eksposi kemudian pengukuran dosis yang diserap oleh masing-masing kristal tersebut (Jucius and Kambic, 1977; Dixon and Eckstrand, 1978; Shope et al, 1982; Cacak and Hendee, 1979). Teknik lainnya menggunakan tabung ionisasi khusus yang dapat digunakan untuk mengukur dosis dari beberapa titik pada lebar berkas sinar-X (Moore, Cacak, and Hendee, 1981) dan merekonstruksi dosis hasil pengukuran tersebut ke dalam kurva dosis.
Konsep serupa dikemukakan oleh Burlaw, personel doker radiologi yang menangani masalah dosis CTDI. Untuk memperoleh CTDI, ion chamber yang berbentuk pensil disisipkan dalam lubang garis phantom. Ion chamber sangat bagus khususnya untuk pengukuran radiasi hambur, karena dapat menunjukkan dosis rata-rata pasien pada single scan yang diperoleh.
Metode yang banyak digunakan adalah dengan standar dosimetri silindris pada phantom, dengan dosimeter diletakkan di permukaan dan di sebelah dalam phantom. Dosis radiasi yang tepat tidak jelas ditampakkan dengan phantom silindris karena banyak faktor seperti posisi, variasi bentuk pasien dan atenuasi sinar-X yang tidak sama. Namun demikian metode ini berguna untuk menunjukkan bagaimana variasi dosis yang ada pada scanning (pengirisan) selama pemeriksaan (Goldman,2007).

Metode lain dari catatan untuk menghitung dosis efektif dengan melibatkan faktor konversi dari sebuah regio anatomis umum juga dijelaskan oleh European Guidelines on Quality Criteria for Computed Tomography, yang berdasar pada penelitian Jessen et al. Pada pendekatan ini CTDIW dan jarak digunakan untuk menghitung Dose Length Product (DLP), yang kemudian dikalikan dengan sebuah factor konversi regio spesifik untuk menghitung dosis efektif. Faktor konversi ini berjangkauan dari 0.0023 mSv/mGy cm untuk regio kepala ke 0.017 mSv/mGy cm untuk regio dada dan 0.019 mSv/mGy cm untuk pelvis.

Sebuah scan dada yang dilakukan dengan sebuah scanner single detector pada 120 kVp, 250 mAs, kolimasi 5-7 mm, dan sebuah pitch 1, CTDI100,center akan menjadi 10 mGy, CTDI100,tepi akan menjadi 18 mGy, CTDIW akan menjadi 15 MGy, dan CTDIvol akan menjadi 15 mGy. Jika diasumsikan panjang scan 25 cm, DLP akan menjadi 375 mGy cm; ketika factor konversi untuk dada digunakan, perkiraan dosis efektif akan menjadi 6.4 mSv. Sebuah scan kepala yang dilakukan dengan scanner single detector pada 120 kVp, 300 mAs, kolimasi 5 mm ,dan sebuah pitch 1, CTDI100,center akan menjadi 40 mGy, CTDI100,tepi akan menjadi 40 mGy, CTDIW akan menjadi 40 mGy, dan CTDIvol akan menjadi 40 mGy. Jika diasumsikan panjang scan 17.5 cm, DLP akan menjadi 700 mGy cm; ketika factor konversi untuk kepala digunakan, perkiraan dosis efektif akan menjadi 1.6 mSv (Michael,2002).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar